BukhariMuslim) 2. Memuliakan Tamu dan Tetangga. "Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal." (HR. Bukhari) "Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami." (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad)
Dalam Islam, bertamu adalah suatu tindakan yang dianjurkan dan disunnahkan. Adab bertamu dan memuliakan tamu merupakan suatu ajaran yang sangat ditekankan dalam agama Islam, karena tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai kesopanan, kebaikan hati, dan persaudaraan yang harus dijaga dalam setiap interaksi sosial. Pengertian Adab Adab merupakan kata dalam bahasa Arab yang memiliki arti tata krama, sopan santun, atau cara yang benar dalam berperilaku. Adab mengandung makna kesopanan dan kepatuhan terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, baik yang berkaitan dengan hubungan antarindividu maupun hubungan dengan Tuhan. Adab banyak diterapkan pada kehidupan sehari-hari, baik kehidupan keluarga sosial termasuk adab bertamu dan memuliakan tamu Pentingnya Adab Bertamu dalam Islam Adab bertamu merupakan etika yang penting dalam budaya Indonesia. Hal ini mencakup perilaku sopan dan menghargai selama mengunjungi seseorang di rumah atau di tempat kerja. Berikut adalah beberapa poin pentingnya adab bertamu Menunjukkan rasa terima kasih Saat pertama kali tiba di rumah seseorang, sampaikan ucapan terima kasih atas undangan dan kesempatan untuk berkunjung. Menjaga kesopanan Selama bertamu, pastikan untuk memperlihatkan perilaku yang sopan dan menghormati aturan yang berlaku di rumah tuan rumah. Tidak berlebihan Jangan meminta terlalu banyak dari tuan rumah, seperti meminta makanan atau minuman yang tidak disediakan. Tidak mengganggu Hindari mengganggu aktivitas tuan rumah atau keluarganya, seperti bekerja atau beristirahat. Tidak lupa pamit saat akan pulang, jangan lupa mengucapkan terima kasih dan pamit kepada tuan rumah. Memiliki adab bertamu yang baik adalah penting untuk memperlihatkan rasa hormat dan menghargai tuan rumah serta menciptakan hubungan yang baik antara tamu dan tuan rumah. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan citra diri dan menghindari konflik yang tidak perlu. Oleh karena itu, sebagai tamu yang baik, penting untuk selalu memperhatikan adab bertamu yang benar. Pentingnya menjaga adab dalam bertamu menjadi salah satu tuntunan dalam agama Islam. Sebagai umat Muslim, kita diwajibkan untuk memperlihatkan sikap sopan dan menghargai ketika berkunjung ke rumah orang lain Hendaknya Memenuhi undangan sesuai waktu kecuali ada udzur Sebagai seorang tamu yang diundang, penting untuk memenuhi undangan sesuai dengan waktunya, kecuali jika ada alasan yang sah seperti rasa takut akan bahaya yang mengancam diri sendiri atau agamanya. sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ “Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” HR. Abu Dawud dan Ahmad وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” HR. Bukhari Tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang Sebaiknya kita tidak membeda-bedakan antara siapa yang mengundang kita, terlepas dari apakah orang tersebut kaya atau miskin. Sangatlah penting untuk memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama, tanpa memandang latar belakang kekayaan mereka. Menilai seseorang berdasarkan status sosial atau finansial mereka dapat menunjukkan ketidakadilan dan ketidakpatuhan terhadap prinsip kebijaksanaan. Berniat Berniatlah bahwa keberadaan kita di sini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada sesama umat Muslim. Kita hadir dengan tujuan untuk menghormati satu sama lain dalam kehidupan beragama. Dalam Islam, saling menghormati adalah nilai yang sangat penting, karena ini mencerminkan rasa kasih sayang dan persatuan dalam keberagaman. Sebagaimana hadits “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” HR. Bukhari Muslim Masuk dengan seizin tuan rumah Dalam budaya kita, penting untuk mematuhi etika saat berkunjung ke rumah seseorang. Hal ini mencakup meminta izin tuan rumah sebelum memasuki rumah mereka dan segera pulang setelah makan selesai, kecuali tuan rumah mengundang kita untuk tinggal lebih lama. hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” Qs. Al Azab 53 Disunnahkan tetap menghadiri undangan meski sedang berpuasa Saat kita sedang berpuasa, sebaiknya tetap menghadiri undangan karena ini dapat menunjukkan kebahagiaan kita kepada sesama muslim dan juga dianggap sebagai bagian dari ibadah. Berpuasa tidaklah menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghadiri undangan. sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ “Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” HR. Muslim Meminta Izin Seorang tamu meminta izin dari tuan rumah untuk mulai makan, tanpa melirik ke arah pintu keluar bagi wanita, dan tanpa menolak kursi yang telah disediakan. Berusaha tidak memberatkan tuan rumah Sebagai tamu, penting bagi kita untuk berusaha keras agar tidak menyulitkan atau memberikan beban yang berat pada tuan rumah. Kita seharusnya berperilaku sopan dan menghormati tuan rumah dengan cara menjaga kebersihan dan kerapihan diri, serta merespons segala kebutuhan yang diberikan dengan baik. Selain itu, kita juga dapat menunjukkan rasa terima kasih atas keramahan tuan rumah dengan mengungkapkan kata-kata atau tindakan yang sopan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kita menghargai kesediaan tuan rumah untuk menerima kedatangan kita sebagai tamu. Dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah Memberikan hadiah kepada tuan rumah juga merupakan salah satu bentuk adab dalam bertamu. Sebagai muslim, kita dianjurkan untuk memuliakan tamu dan menghargai tuan rumah yang telah menyambut dengan baik. Tindakan kecil ini dapat memperkuat hubungan persaudaraan dan membuat suasana menjadi lebih hangat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” HR. Bukhari Apabila datang bersama orang yang tidak diundang Ketika seseorang mengajak temannya yang tidak diundang dalam suatu acara, maka seharusnya meminta izin terlebih dahulu kepada tuan rumah sebelum mengajak temannya tersebut. Tindakan tersebut merupakan tanda sopan santun yang patut dijaga, menghargai privasi dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh tuan rumah. sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” HR. Bukhari Hendaknya mendoakan tuan rumah Mendoakan tuan rumah yang memuliakan kita ketika bertamu bukan hanya menunjukkan sopan santun, tetapi juga menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan atas keramahan yang diberikan. Setelah selesai bertamu Setelah selesai bertamu, sebaiknya seorang tamu meninggalkan rumah tuan dengan perasaan tenang dan bahagia. Ia harus menunjukkan sopan santun yang baik serta dapat memaafkan segala kekurangan yang ada pada tuan rumah. Sikap lapang dada seorang tamu setelah meninggalkan rumah tuan merupakan tanda penghargaan terhadap keramahan dan kesediaan tuan rumah untuk membuka pintu rumahnya. Oleh karena itu, seorang tamu harus memperlihatkan budi pekerti yang baik agar tuan rumah merasa senang dan dihargai atas keramahtamahannya.
Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari) Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan memuliakan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu. Adab Bagi Tuan Rumah 1.
Adab Atau Tata Krama Bertamu Dan Menerima Tamu - Sebagai Seorang Muslim, kita diperintahkan supaya mempererat hubungan tali silaturahmi. Dan sudah semestinya kita sebagai umat islam saling berkunjung atau bertamu sehingga dapat menumbuhkan hubungan yang akrab. Meskipun demikian kita harus memperhatikan adab atau tata krama bertamu maupun menerima tamu. Memuliakan tamu merupakan ciri akhlak yang mulia. Sementara sikap tidak menghormati tamu merupakan akhlak yang tidak terpuji. Rasulullah Saw, menghubungkan sikap memuliakan tamu sebagai ciri orang yang beriman. Beliau bersabda yang artinya "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir janganlah menyakiti tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik atau kalau tidak bisa hendaknya ia diam." Bukhari dan Muslim. Baca juga Bacaan doa ketika naik kendaraan darat, laut dan udara Adab Bertamu Bertamu merupakan sunah rasul agar kita mendapat rahmat dan berkah. Oleh karena itu pada saat kita hendak bertamu atau silaturahmi janganlah seenaknya sendiri. Harus memperhatikan tata krama atau norma-norma dalam bertamu. Niat bertamu dengan ikhlas, baik, tidak untuk berbuat jahat atau maksiat. Mengetahui waktu yang tepat untuk bertamu. Memakai pakaian yang sopan, bersih, rapih atau pantas. Mengetuk pintu tiga kali dan mengucapkan salam kepada tuan rumah. Berjabat tangan dengan pemilik rumah pria, jika dengan wanita cukup menunjukan rasa hormat. Masuk ke rumah setelah dipersilahkan masuk. Jangan masuk sebelum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Duduk ditempat yang sudah dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Berbicara dengan bahasa yang sopan dan santun dengan menyenangkan tuan rumah. Mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan dan bicara seperlunya, tidak menggunjing, menjelekkan orang lain. Tidak berlama lama ketika bertamu, jangan sampai membuat pemilik rumah jenuh dan bosan. Adab Menerima Tamu Agama Islam juga mengajarkan tata krama menerima tamu atau menghormati tamu, bagi kaum muslimin dalam menyambut atau menerima tamu, baik dari segi sikap, perkataan, penampilan, maupun pelayanan yang diberikan. Dengan demikian kita dapat memperlakukan tamu dengan sebagaimana mestinya. Berikut ini adalah tata krama dalam menerima tamu. Menjawab salam jika tamu mengucapkan salam Menyambut tamu dengan ikhlas dan wajah penuh keramahan. Tidak membedakan sikap terhadap tamu yang datang. Berjabat tangan laki-laki dengan laki-laki dan perempuan serta mempersilahkan masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Usahakan agar tamu senantiasa gembira dan senang berada di rumah kita. Segera menjamu tamu apabila ada persediaan makanan atau pun minuman dan mempersilahkan untuk menikmatinya. Mempersilahkan apabila tamu minta pamit hendak pulang. mengantarkan tamu sampai pintu rumah atau halaman dan meminta maaf apabila ada kekurangan dalam penerimaanya. Menjawab salam jika tamu akan pulang mengucapkan salam. mendoakan tamu agar selamat sampai dirumahnya. Baca juga Adab atau tata karam makan dan minum dalam islam Demikianlah sedikit mengenai adab atau tata krama bertamu dan menerima tamu. Semoga bisa bermanfaat, perlu diingat bertamu atau menjalin silaturahmi dapat memperpanjang umur serta memperlancar rezeki kita.
Katakata untuk mengucapkan selamat tinggal dalam Bahasa Inggris yang pertama adalah "take care of yourself for we are going to meet again" atau dapat diartikan dengan "jaga dirimu sampai kita bertemu kembali" dalam Bahasa Indonesia. Berikut adalah contoh penggunaan ungkapan ini dalam percakapan sehari-hari.
Untuk menjaga dan mempererat tali silaturahmi kita dianjurkan untuk berkunjung ke rumah orang lain. Kehadiran tamu pun harus dimuliakan dan disambut dengan tuan rumah, ada tata cara yang harus diperhatikan dalam menerima tamu merasa betah dan nyaman, simak lima tata cara berikut Segeralah membukakan pintuilustrasi membuka pintu SubiyantoKetika mendengar tamu mengetuk pintu atau membunyikan bel dan mengucap salam. Segeralah untuk membukakan pintu, menjawab salam, dan mempersilakan masuk. Sambutlah dan jangan biarkan tamu menunggu juga untuk mengucapkan selamat datang kepada tamu. Sebagaimana terdapat pada hadis berikut “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” HR. Bukhari.2. Menampakkan rasa senang saat menerima tamuilustrasi menyambut tamu ProductionsUntuk memberikan penyambutan yang baik, sebagai tuan rumah terimalah setiap tamu dengan hangat, tunjukkan rasa senang atas kehadiran tamu dengan wajah yang ceria dan mengeluhkan kedatangan mereka, justru tampakkan rasa sedih apabila tamu telah berpamitan pulang. Baca Juga 5 Tata Krama Bertamu ke Rumah Orangtua Pacar, Jaga Sikap! 3. Tidak buru-buru mengangkat hidanganilustrasi menjamu tamu satu adab menerima tamu yang harus diperhatikan adalah tidak buru-buru merapikan hidangan sebelum tamu selesai hal itu merupakan perbuatan yang tidak sopan dan menandakan bahwa kita menginginkan tamu untuk segera pulang. Maka, alangkah baiknya untuk membereskan hidangan setelah tamu Menyambut tamu dengan pakaian sopanilustrasi menerima tamu MichalouMenyambut tamu dengan memakai pakaian menutup aurat, sopan, dan rapi merupakan adab yang perlu dikerjakan. Dengan menutup aurat dan menggunakan pakaian bersih, tentunya akan membuat tamu merasa bahwa kedatangannya Antarkan tamu sampai ke gerbang rumahilustrasi mengantar tamu ProductionsSetelah tamu menyelesaikan keperluannya dan pamit pulang, hendaklah untuk mengantarkannya sampai ke pintu atau gerbang rumah. Sebab, mengiringi langkah tamu sampai ke halaman rumah adalah sunah. Seperti pada hadis berikut “Sesungguhnya merupakan perbuatan yang sunah apabila seseorang Tuan rumah keluar bersama – sama tamunya sampai ke pintu halaman.” MajjahSebagai tuan rumah harus memuliakan setiap tamu yang berkunjung, penyambutan yang baik itu akan membuat tamu merasa nyaman dan dihormati. Baca Juga Gak Etis, Jangan Lakukan 9 Hal Ini saat Bertamu ya! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Saatingin menolak sesuatu, misalnya ajakan, kita tetap harus melakukannya dengan sopan. Baca Juga: Contoh Ungkapan Rasa Bersungguh-sungguh dalam Bahasa Inggris. Salah satu contoh kalimat penolakan yang paling sering digunakan adalah " no, thank you " atau yang artinya "enggak, terima kasih". Kali ini, GridKids akan memberikan beberapa contoh
ADAB-ADAB MENGUCAPKAN SALAMOleh Syaikh Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Suhaibani1. Apabila bertemu dengan seorang teman, maka cukupkanlah dengan berjabat tangan disertai dengan ucapan salam assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh tanpa berpelukan, kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian, karena memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkataكَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا.“Apabila Sahabat-Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam saling berjumpa, maka mereka saling berjabat tangan, dan apabila mereka datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.” [HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no. 97 dan Imam al-Haitsami berkata dalam kitab Majma’uz Zawaa-id VIII/36, “Para perawinya adalah para perawi tsiqah.”]2. Sangat dianjurkan untuk membaca salam secara sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuhu.” Hal ini berdasarkan hadits Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkataجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ عِشْرُوْنَ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ثَلاَثُوْنَ .“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mengucapkan, Assalaamualaikum.’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sepuluh.’ Kemudian datang pula orang lain yang kedua memberi salam, Assalaamu alaikum warahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Dua puluh.’ Kemudian datang orang yang lain lagi ketiga dan mengucapkan salam Assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.’ Maka, dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda Tiga puluh.’” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195 dan at-Tirmidzi no. 2689 dan beliau menghasankannya]3. Tidak disyari’atkan mengucapkan salam dengan lafazhاَلسَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى.“Semoga keselamatan tercurah hanya kepada orang yang mengikuti petunjuk.”Apabila yang diberi salam seorang muslim, karena lafazh salam di atas khusus diperuntukkan selain muslimin sebagaimana dalam surat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Raja Hiracliusبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ إِلَى هَرَقْلِ عَظِيْمِ الرُّوْمِ، سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى…“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad hamba Allah dan utusannya, kepada Hiraclius penguasa bangsa Romawi, keselamatan bagi orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.”Sedangkan hikmah di balik memberikan salam kepada orang-orang selain Islam dengan lafazh tersebut, kemungkinan hanya Allah Yang Mahatahu adalah untuk meluluhkan hati mereka, memberikan rasa aman kepada mereka dengan pengajuan syarat-syarat, yaitu mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan yang demikian itu apabila diucapkan kepada seorang muslim itu berarti telah mencabut haknya sebagai seorang mukmin, karena dia seorang muslim, maka dia adalah orang yang sudah mendapatkan petunjuk, maka tidak diperbolehkan untuk menggunakan lafazh tersebut yang ditujukan kepada saudara sesama Dilarang mengucapkan salam dengan lafazhعَلَيْكَ السَّلاَمُ.“Semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu.”Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Tamimah al-Hujaimi dari seorang laki-laki yang berasal dari kaumnya. Dalam riwayat yang lain dikatakan laki-laki itu bernama Abu Jura al-Hujaimi, dia berkataطَلَبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقْدِرْ عَلَيْهِ فَجَلَسْتُ، فَإِذَا نَفَرٌ هُوَ فِيْهِمْ وَلاَ أَعْرِفُهُ، وَهُوَ يُصْلِحُ بَيْنَهُمْ، فَلَمَّا فَرَغَ قَامَ مَعَهُ بَعْضُهُمْ فَقَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُلْتُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ، يَارَسُوْلَ اللهِ، عَلَيْكَ السَّلاَمُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلَيْكَ السَّلاَمُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيَّ فَقَالَ إِذَا لَقِيَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَلْيَقُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، ثُمَّ رَدَّ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ.“Aku mencari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, namun aku tidak mendapatinya, kemudian aku duduk, tiba-tiba datang sekelompok orang dan beliau ada di an-ara mereka sedang aku tidak mengenalnya, saat itu beliau sedang mendamaikan beberapa dari mereka yang berselisih. Kemudian setelah selesai ada sebagian dari mereka yang berdiri bersama dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berkata, Wahai Rasulullah,’ tatkala aku melihat hal tersebut, maka aku katakan Alaikas salaam ya Rasulullah, alaikas salaam ya Rasulullah, alaikas salaam ya Rasulullah semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu, wahai Rasulullah, 3x. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah engkau berkata seperti itu. Sesungguhnya alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendekatiku seraya berkata Apabila seseorang bertemu dengan saudaranya sesama muslim, hendaklah ia mengucapkan Assalaamu alaikum warahmatullaah.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan jawabannya kepadaku, seraya bersabda Wa alaika warahmatullaahi dan semoga rahmat Allah juga ter-limpah atasmu, 3x.’” [HR. Abu Dawud no. 4084, at-Tirmidzi no. 2721, Ahmad V/63-64, dan yang lainnya. Lafazh hadits ini berdasarkan riwayat at-Tirmidzi]5. Dibolehkan berdiri untuk memberikan salam sebagai ucapan selamat atau belasungkawa atau berdiri untuk menolong orang yang sudah jompo lemah atau berdirinya seorang anak untuk menghormati orang tuanya atau seorang isteri kepada suaminya atau sebaliknya, sebagaimana juga berdirinya untuk menyambut orang yang baru datang dari bepergian safar, juga berdiri seseorang dari majelisnya untuk menyambut orang yang datang pada majelis tersebut. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang berkaitan dengan hal-hal tersebut yang tidak memungkinkan untuk dijabarkan di sini. Dan begitu juga tidak boleh seseorang atau lebih berdiri dalam rangka memberi hormat kepada seseorang yang sedang duduk, sebagaimana kebiasaan para raja atau penguasa bengis lainnya. Namun dikecualikan dalam hal ini apabila berdiri untuk tujuan yang bermanfaat, sebagaimana berdirinya Ma’qil bin Yasar untuk mengangkat ranting dari bongkahan kayu yang ada di atas kepala Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika peristiwa Bai’ah.” [HR. Muslim]Sedangkan sengaja bangkit berdiri ketika melihat seseorang, seperti ketika orang-orang berada di suatu majelis kemudian datang seseorang lalu mereka berdiri dan memberi salam padanya, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah haram hukumnya. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Mu’awiyah bahwa dia pernah masuk ke suatu rumah yang di dalamnya terdapat Ibnu Amir dan Ibnuz Zubair. Kemudian Ibnu Amir berdiri sedangkan Ibnuz Zubair tetap duduk. Lalu Mu’awiyah berkata “Duduklah, sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الْعِبَادُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.“Barangsiapa yang senang jika para hamba Allah berdiri memberi hormat kepadanya, maka silakan menempati tempat duduknya di dalam Neraka.’” [HR. Abu Dawud no. 5229, at-Tirmidzi no. 2915, Ahmad IV/93, 100. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 357]6. Tidak dibenarkan mencukupkan salam hanya dengan isyarat lambaian tangan semata tanpa menyertainya dengan lafazh as-salaamu alaikum, hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,لاَ تُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَ الْيَهُوْدِ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَهُمْ بِالرُّؤُوْسِ وَاْلأَكْفِ وَاْلإِشَارَةِ.“Janganlah kalian memberikan salam sebagaimana salamnya orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya cara Yahudi memberi salam adalah dengan anggukan kepala dan lambaian tangan atau dengan isyarat tertentu.”[HR. At-Tirmidzi no. 2695, dengan sanad hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 2194]Larangan tersebut dikhususkan bagi orang yang masih sanggup untuk mengucapkan lafazh salam dengan lisannya baik secara hissi maupun syar’i. Namun dibolehkan bagi mereka yang mempunyai kesibukan, sehingga mereka susah atau tercegah untuk menjawab salam, misalnya orang yang sedang shalat, atau orang yang terlihat jauh, atau orang bisu dan begitu pula bentuk salam bagi orang yang Berusaha sungguh-sungguh untuk menyebarkan salam, dan tidak kikir di dalam melakukannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallamأَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu perbuatan apabila kalian lakukan niscaya akan membuat kalian saling mencintai satu sama lain? Sebarkanlah salam di antara kalian ketika saling bertemu.” [HR. Muslim no. 54, Abu Dawud no. 5193, Ibnu Majah no. 3692 dan Ahmad II/391, 442]Di dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menyebarkan salam agar kebaikan dapat tersebar, hati menjadi saling terpaut dan barisan menjadi Tidak selayaknya untuk meninggalkan adab-adab dan ucapan salam kepada anak kecil, sebagaimana diriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak-anak kecil lalu beliau memberi salam kepada mereka dan berkata “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal tersebut.” [HR. Al-Bukhari no. 6247, Muslim no. 2168, Abu Dawud no. 5202 dan at-Tirmidzi no. 2696]Ini merupakan bagian akhlaq beliau Shallallahu alaihi wa sallam yang agung dan adabnya yang mulia, dan ini merupakan pendidikan bagi anak-anak untuk mempelajari sunnah-sunnah dan melatih mereka agar dapat menerapkan adab-adab yang mulia sehingga nantinya tumbuh dewasa sebagai orang yang mempunyai adab yang mulia Tidak selayaknya meninggalkan ucapan salam ketika selesai dari suatu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallamإِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، ثُمَّ إِذَا قَامَ وَالْقَوْمُ جُلُوْسٌ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ.“Apabila salah seorang di antara kalian sampai pada suatu majelis maka hendaklah ia mengucapkan salam, jika setelah itu hendak duduk maka silakan duduk, lalu apabila ia hendak berdiri meninggalkan majelis sedangkan orang lain masih duduk hendaklah mengucapkan salam, karena saat kedatangan tidak lebih berhak untuk diucapkan salam di dalamnya dari saat kepergian.” [HR. Ahmad dan lainnya, shahih][1]Tidak selayaknya memulai memberikan salam kepada orang kafir. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,لاَ تَبْدَؤُوا الْيَهُوْدَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ، فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِيْ طَرِيْقٍ فاَضْطَرُّوْهُ إِلَى أَضْيَقِهِ.“Janganlah kalian memulai memberikan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, apabila kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan maka paksalah mereka hingga mereka berada di jalan yang sempit.” [HR. Muslim no. 2167, at-Tirmidzi no. 2701 dan Abu Dawud no. 5205][Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M] _______ Footnote [1]. Lafazh yang lainnya adalahإِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ.“Apabila salah seorang di antara kalian sampai pada suatu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak berdiri meninggalkan majelis, maka hendaklah mengucapkan salam, karena saat kedatangan tidak lebih berhak untuk diucapkan salam di dalamnya dari saat kepergian.” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5208, at-Tirmidzi no. 2707, dishahihkan oleh Ibnu Hibban no. 1931] Home /A7. Adab dan Perilaku.../Adab-Adab Mengucapkan Salam
Dalamkesempatan ini saya ingin menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW tentang Anjuran untuk memuliakan tetangga, tamu dan tidak banyak omong kecuali hal yang baik. maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan
- Dalam sebuah acara, selalu ada poin-poin pendukung yang bisa melancarkan jalannya acara. Nggak melulu soal inti acara, namun juga rangkaian dari awal hingga akhir. Bahkan sering kali orang melupakan salah satu bagian yang perlu disiapkan, yaitu kata sambutan. Yup, pasti kamu nggak asing dong dengan kata sambutan yang biasanya diletakkan pada awal acara. Dalam momen ini, sang tuan rumah akan dipercaya untuk memberikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada para tamu yang sudah hadir. Kata-kata sambutan menjadi salah satu pembuka yang penting di dalam acara. Tamu dapat lebih memahami apa pembahasan atau kegiatan yang dilakukan dalam momen tersebut. Kamu bisa mengawalinya dengan beberapa ungkapan yang diikuti dengan maksud dan tujuan dari acara tersebut. Nah, biar nggak kehabisan ide, coba cek yuk awalan kata-kata sambutan yang bisa kamu sampaikan dalam berbagai momen. Simak selengkapnya dalam ulasan yang dirangkum dari berbagai sumber pada Selasa 28/2. Kata-kata sambutan untuk acara formal. foto 1. "Segala puji bagi Tuhan yang telah memberikan nikmat dan juga kesehatan sehingga kita dapat berkumpul bersama pada kesempatan kali ini.." 2. "Selamat pagi, salamat datang pada acara rapat kali ini. Saya bersyukur kita dapat bertemu dalam keadaan sehat.." 3. "Suatu kehormatan bagi saya dapat berdiri disini menyambut bapak ibu pada pagi hari ini.." 3. "Izinkan saya untuk memberikan sambutan untuk mengawali pagi yang cerah ini.." 4. "Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah-Nya kita dapat berkumpul hari ini." 5. "Selamat pagi, selamat datang dalam acara pada hari ini. Senang sekali saya dapat menyambut bapak ibu pada pagi ini.." 6. "Sebuah kebanggan bagi saya dapat dipercaya untuk memberikan sambutan kali ini.." 7. "Rezeki dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk dengan bisa bertemu Anda sekalian pada hari ini.." 8. "Betapa bahagia saya dapat berdiri di hadapan Anda semua, semoga momen hari ini bisa ikut memberikan kebahagiaan untuk Anda.." 9. "Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan pada Allah SWT karena telah mempertemukan kita, Insya Allah dalam keadaan sehat.." 10. "Selamat pagi, senang sekali saya berkesempatan untuk memberikan sambutan pada pagi hari ini di depan hadirin yang terhormat.." 11. "Sebagai bentuk rasa syukur dengan adanya acara hari ini, izinkan saya untuk menyampaikan kata sambutan.." 12. "Selamat pagi, saya ucapkan selamat datang dalam acara kita hari ini. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih atas kehadiran hadirin yang terhormat.." 13 "Hadirin yang berbahagia, sebuah kebanggaan bagi saya dapat diizinkan untuk memberikan sambutan hari ini, perkenankan saya untuk menjelaskan agenda kita hari ini.." 14. "Bukan tanpa alasan sebuah acara diselenggarakan, dan bukan tanpa alasan untuk kita bisa dipertemukan hari ini.." 15. "Sebagai bentuk rasa syukur, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa kalimat untuk menyambut acara pada pagi hari ini.." Kata-kata sambutan untuk acara informal seperti ulang tahun atau tasyakuran. foto 16. "Selamat datang teman-teman dalam acara perayaan ulang tahunku hari ini, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang." 17. "Senang sekali saya bisa melihat teman-teman hari ini, semoga momen pertambahan usia ini bisa memperkuat hubungan persaudaraan kita." 18. "Halo terima kasih teman-teman sudah mau datang. Aku merasa bersyukur bisa dikelilingi orang-orang yang aku sayang.." 19. "Tidak ada kata selain terima kasih yang bisa aku sampaikan hari ini. Tanpa dukungan kalian, acara ini tidak mungkin berjalan lancar.." 20. "Selamat malam, saya sebagai orang tua ingin mengucapkan terima kasih yang begitu besar untuk kalian yang sudah berkenan hadir hari ini.." 21. "Selamat pagi, tidak banyak kata yang bisa saya sampaikan pada hari ini, namun saya merasa beruntung dengan adanya dukungan dari kalian yang sudah datang hari ini." 22. "Mungkin terima kasih tidak akan cukup untuk segala bantuan kalian, namun aku doakan semoga hari ini bisa menjadi awal yang baik untuk kita semua.." 23. "Dalam acara tasyakuran hari ini, izinkan saya untuk meminta doa dan restu agar semua yang diharapkan dapat berjalan lancar." 24. "Bahagia itu ketika kita bisa berbagi dengan orang di sekitar kita, rasanya ungkapan itu dapat mewakili perasaan saya hari ini.." 25. "Teman-teman, bukan hura-hura yang menjadi inti acara hari ini, namun doa dan restu kalian semua yang bisa membuat hari ini semakin bermakna.." 26. "Kekurangan akan selalu ada dalam setiap perbuatan kita, namun saya yakin dengan kehadiran teman-teman semua kekurangan akan terasa tak bermakna.." 27. "Selamat datang teman-teman yang aku sayang, terima kasih sudah meluangkan waktu hari ini. Selain berharap acara dapat berjalan lancar, semoga persahabatan kita juga bisa selalu terjaga.." 28. "Terima kasih teman-teman sudah hadir pada hari ini, terima kasih sudah menjadi bagian dalam kesuksesan saya.." 29. "Tanpa dukungan dan kebaikan teman-teman, mungkin saya tidak dapat berdiri di sini, izinkan saya menyampaikan sedikit sambutan untuk acara hari ini.." 30. "Tuhan adalah sebaik-baiknya pengatur kehidupan, dan kehadiran teman-teman adalah pendukung terbaik yang akan selalu saya syukuri.." brl/red Recommended By Editor 60 Quotes bijak dari para pahlawan, bikin hidup makin gereget 40 Pantun ucapan ulang tahun, lucu dan penuh makna 29 Kata-kata ucapan ulang tahun untuk orang tersayang, penuh harapan 40 Kata-kata ucapan ulang tahun untuk orangtua, penuh doa 40 Kata-kata ucapan selamat lamaran, spesial untuk orang terdekat
Kitajamu pengantar tamu kondangan dengan menu dan kualitas yang baik. Kata-kata kunci yang harus dijadikan pedoman adalah memuliakan tamu merupakan ibadah karena melaksanakan perintah Allah Subhaanahu wa Ta 'aala dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, semua kita lakukan dengan ikhlas. Keikhlasan inilah yang dapat memancarkan keramahtamahan.

Memuliakan tamu merupakn ciri akhlak yang mulia. Sementara bersikap tidak ramah atau tidak peduli dengan tamu tergolong akhlak yang hina. Bahkan Rasulullah saw. menghubungkan sikap memuliakan tamu sebagai salah satu ciri iman/ Beliau bersabda”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir janganlah mnyakiti tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik atau kalau tidak dapat hendaknya dia diam” HR Bukhari dan Muslim. Berikut ini akan dijlaskan bagaiman adab yang baik ketika kita bertamu dan menerima tamu. Bertamu Pada saat kita kedatangan tamu yang penuh sopan santun dan beradab tentu kita merasa senang. Lain halnya bila tamu yang datang berperilaku buruk, kita tentu akan merasa risih. Seperti itulah perasaan setiap tuan rumah yang akan kita datangi. Sikap kurang bersahabat dari tuan rumah jterhadap tamunya adakalanya disebabkan tamu itu sendiri yang berlaku tidak sopan. Bertamu merupakan sunah rasul agar mendapat rahmat dan berkah. Dalam bertamu hendaknya memenuhi adab-adab sebagai berkut. Niat bertamu dengan ikhlas. Bila ada keperluan, maka hendaknya keperluan itu bukan dalam hal maksiat. Sebaik-baik tamu adalah yang membawa kabar gembira. Seba- gaimana tamu Nabi Ibrahim yang dijelaskan Al Quran, “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan “Salam” salam sejahtera. Berkata Ibrahim, “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang anak laki-laki yang akan menjadi orang yang alim.” Al Hijr 51-53. Sebaik-baik kun- jungan adalah untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan hubungan kekerabatan. Mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan kunjungan. Jangan berkunjung di saat-saat yang merepotkan tuan rumah, misalnya waktu tengah malam, subuh, atau saat-saat beristirahat. Sebaiknya buat janji terlebih dahulu dengan tuan rumah sebelum bertamu. Mengetuk pintu tiga kali dan meminta izin. Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih balk bagi kamu agar kamu selalu ingat.” An Nur 27. Bila tidak diberi izin sebaiknya kembali saja karena hal itu lebih utama. Rasulullah menjelaskan, “Apabila seorang bertamu lalu minta izin mengetuk pintu atau mengucapkan salam sampai tiga kali dan tidak ditemui tidak dibukakan pintu, maka hendaklah dia pulang.” HR Bukhari. Berjabat tangan dengan tuan rumah sesama pria, adapun dengan wanita cukup menunjukkan sikap hormat. Sabda Nabi,”Apabila kamu saling jumpa, maka saling mengucapkan salam dan bersalam- salaman, bila saling berpisah, maka berpisahlah dengan ucapan istigfar”. HR At Tahawi. Tidak masuk ke dalam rumah seorang wanita yang suaminya tidak ada di rumah, kecuali bila ada orang dewasa lain di rumah itu dan sekadar keperluan karena berduaan dengan wanita ini haram hukumnya. Berbicara dengan bahasa yang sopan dan santun serta menyenangkan tuan rumah. Sangat baik bila membawa oleh-oleh, kenangan, atau buah tangan. Namun yang lebih utama adalah sikap yang baik karena apa pun yang diberikan tidak ada nilainya bila kita bersikap buruk atau berkata-kata yang menyakitkan hati. Menghormati aturan-aturan yang ditentukan oleh tuan rumah dan mematuhinya. Misalnya duduk di tempat yang diperkenankan oleh tuan rumah. Tidak berlama-lama dalam bertamu dan jangan sampai membuat tuan rumah menjadi jemu atau jenuh. Mengingat sabda Rasulullah saw. “Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah itu sedekah Tidak halal bagi si Tamu tinggal lebih lama sehingga menyakiti hati tuan rumah”. HR Baihaqi. Menerima Tamu Menerima tamu atau menghormati tamu dalam bahasa Arab disebut “akrimud duyuf”. Bagi kaum muslim hendaknya bertindak sebaik-baiknya dalam menyambut menerima tamu, baik dari segi sikap, penampilan, percakapan, maupun pelayanan yang diberikan. Islam mengenal adab dalam menyambut dan berinteraksi dengan tamu, yaitu antara lain sebagai berikut. Menyambut tamu dengan ikhlas dan wajah penuh keramahan. Tidak membeda-bedakan sikap terhadap tamu yang hadir ke rumah kita, kecuali dalam tingkat ketakwaan dan tingkat kekerabatannya. Jangan membeda-bedakan terhadap tamu, seperti yang kaya atau pejabat dengan sikap berlebih-lebihan atau menelantarkan tamu karena dia tergolong orang yang miskin. Menghormati tamu hendaknya ditunjukkan dalam sikap, penampilan, percakapan, maupun pelayanan Memberikan jamuan terhadap tamu sesuai dengan kemampuan, terutama bila tamu itu sengaja kita undang untuk datang dari tempat yang jauh. Kewajiban menjamu tamu adalah sehari semalam, sedangkan selebihnya merupakan sedekah. Berusaha sekuat tenaga memenuhi keperluan tamu yang hadir itu. Bila tidak fnampu, maka sampaikanlah kepada tamu tersebut secara bijaksana sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung yang mengakibatkan sakit hati tamu tersebut. Menemui tamu dengan wajah ceria, sikap antusias, serta sopan dan santun terhadap tamu terutama ungkapan rasa terima kasih atas kehadirannya di rumah kita. Usahakan agar tamu senantiasa gembira dan senang berada di rumah kita. Bila perlu berikanlah cinderamata sebagai kenang-kenangan dan rasa syukur. Bila tamu yang datang itu tidak kita inginkan, janganlah sekali-kali menunjukkan sikap yang membuatnya tersinggung. Jika ingin menolaknya, tolaklah dengan cara yang bijaksana. Jika tamu telah berpamitan akan pulang, antarlah atau iringilah tamu sampai ke pintu rumah pagar karena hal ini termasuk sunah. Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Adab Bertamu Dan Menerima Tamu Dalam Pandangan Islam. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca dan bisa dijadikan sumber literatur untuk mengerjakan tugas. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya. Baca postingan selanjutnya Tata Krama Berhias Dan Berpakaian Menurut Pandangan Islam Beserta Dalilnya 10 Nama Malaikat Yang Wajib Diketahui Beserta Tugas Dan Dalil nya Fungsi Dan Hikmah/Manfaat Beriman Kepada Malaikat Allah Ayat Ayat Al-Quran Tentang Demokrasi Dan Isi Kandungannya Ayat Ayat Al-Quran Tentang Demokrasi Dan Isi Kandungannya Puasa – Macam macam Puasa Selain Puasa Fardu Dan Penjelasannya Puasa – Pengertian, Syarat Dan Rukun Puasa Lengkap Dengan Dalilnya

7 Nabi Ibrâhîm Alaihissallam melayani tamu-tamunya sendiri. Tidak meminta bantuan orang lain, apalagi meminta tamu untuk membantunya, karena meminta bantuan kepada tamu termasuk perbuatan yang tidak etis. 8. Bertutur kata sopan dan lembut kepada tamu, terutama tatkala menyuguhkan jamuan. Menyambung silaturahmi dan menyambut orang yang berniat untuk menyambung tali silaturahmi adalah keharusan bagi selurut umat muslim. Memulai dan menyambung silaturahmi dengan cara bertamu dan menerima tamu memiliki adab-adabnya tersendiri yang teratur dalam aturan Islam. Bahkan islam sangat menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa memuliakan dan mengormati tamu sebagai bentuk ketakwaan kepada agama dan sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Karena kualitas pribadi seseorang salah satunya bisa terlihat dari bagaimana ia menerima tamu dan memuliakan seseorang yang bertamu ke rumahnya. Baca juga Hukum Silaturahmi Menurut Islam.Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk penghormatan kita terhadap tamu yang berkunjung, mulai dari bersikap ramah hingga memberikan jamuan serta mengantarkan mereka hingga ke halaman rumah setelah pamit akan pulang. Hal ini berlaku sama untuk siapapun tamu yang berkunjung tanpa harus memandang agama, terlebih status dan jugaHikmah Silaturahmi Antar SaudaraKeutamaan Menyambung Tali Silaturahmi dalam IslamHukum Memutuskan Tali Silaturahmi Menurut IslamBegitu pentingnya memuliakan tamu, Allah telah mencontohkan perilaku positif ini bahkan sejak jaman dahulu. Dalam surat adz dzariyat diceritakan bagaimana Nabi Ibramin kala itu yang menjamu tamunya dengan أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ٢٤ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ٢٥ فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ٢٦ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ٢٧Artinya 24 Sudahkah sampai kepadamu Muhammad cerita tentang tamu Ibrahim yaitu malaikat-malaikat yang dimuliakan; 25 Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan “Salaamun”. Ibrahim menjawab “Salaamun kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”; 26 Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk; 27 Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata “Silahkan anda makan”. QS Adz Dzariyat 24 – 27.Selain beberapa contoh yang telah disebutkan di atas, masih banyak keutamaan-keutamaan dalam memuliakan tamu menurut pandangan Islam. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap mengenai keutamaan memuliakan tamu dalam islamMendapat Pahala Seperti Ibadah Haji Dan UmrahSelain sebagai salah satu jalan untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi antar manusia. Tamu yang datang ke kediaman kita juga dapat mendatangkan berkat dan rahmat dari Allah Subhana hua ta’ ini disampaikan oleh Ibnu Abas radhiyallahu anhuma yang mengisahkan bahwasannya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda “Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umrah.” Baca juga Adab Bertamu dalam Islam; Hukum Menyakiti Hati Anak YatimMenghapus Dosa Tuan RumahSelain dapat mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah subhana hua ta’ala, tamu yang berkunjung ke kediaman kita juga dapat mendatangkan pengampunan dari Allah dan menghapuskan dosa yang dimiliki oleh tuan ini telah dikisahkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membenci tamu. Karena sesungguhnya jika ada tamu yang datang, maka dia akan datang dengan membawa rezekinya. Dan jika dia pulang, maka dia akan pulang dengan membawa dosa pemilik rumah.”Baca jugaDosa yang Tak TerampuniCara Menghapus Dosa Zina Sebelum MenikahDosa Wanita Yang Paling Dibenci AllahDosa Besar dalam IslamSelain itu sebuah hadis juga mengisahkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah diberitahu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang bersabda “Wahai Ali, jika kamu dikunjungi oleh tamu, maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugrah kepadamu. Sebab Dia telah mengutus sesuatu yang bisa menyebabkan dosamu diampuni.”Disinari Oleh Cahaya KebaikanDengan kedatangan tamu dan kita memuliakan mereka sebagai tamu yang kita perlakukan dengan sopan dan ramah, maka Allah akan menyinari cahaya kebaikan untuk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah tersebut meskipun tingkat keimanan dan ketakwaan yang dimiliki hadis riwayat Mu’adz Ibnu Jabal radhiyallahu anhuma mengisahkan “Tidak ada satu rumahpun yang dikunjungi oleh tamu, kecuali Allah Tabaarak wa Ta’ala mengutus ke rumah tersebut satu malaikat yang menyerupai burung selama empat puluh hari sebelum tamu itu sampai. Malaikat itu akan menyeru Wahai pemilik rumah si fulan ibn si fulan, tamu kalian akan datang pada hari ini dan itu. Sedangkan balasan dari Allah adalah ini dan itu.’ Para malaikat yang diwakilkan untuk menjaga rumah itu berkata balasan apa lagi yang akan diterima?’ Maka keluarlah malaikat tadi kepada mereka dengan membawa sebuah catatan yang tertulis Allah telah mengampuni penghuni rumah tersebut, meskipun jumlah mereka seribu.’”“Tidak ada seorang hamba mukminpun yang memuliakan seorang tamu ikhlas karena Allah Yang Maha Dermawan, kecuali Allah akan memperhatikannya sekalipun dia berada di antara kerumunan orang. Seandainya tamu yang datang termasuk ahli surga dan pemilik rumah ahli neraka, maka Allah Ta’ala menjadikan pemilik rumah tersebut termasuk ahli surga karena telah memuliakan tamunya.” baca juga Manfaat Senyum Dalam Islam; Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya.Tauladan Dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa SallamRasulullah adalah panutan dan suri tauladan yang baik bagi umat muslim. Termasuk dalam hal memuliakan tamu, Rasulullah sangat menganjurkan dan mengajarkan hal tersebut yang dikisahkan dalam sebuah hadisDari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR. Bukhari]Menjadi Ladang SedekahSikap ramah dan jamuan yang kita berikan kepada tamu yang berkunjung ke rumah adalah ladang sedekah bagi kita, terlebih jika tamu yang berkunjung menginap sampai lebih dari tiga hari. Baca juga Hikmah Sedekah dalam Islam; Manfaat Sedekah Anak Yatim.Sebuah hadis dari Abu Hurairah mengisahkan bahwasanya Nabi SAW bersabda“Haknya tamu itu selama tiga hari, maka yang lebih dari itu menjadi sedeqah”. [HR. Abu Dawud].Termasuk Amalan SurgaMenerima dan memuliakan tamu termasuk dalam perilaku atau amalan yang mendekatkan kita kepada surga. Perkara ini dikisahkan dalam hadis dari Humaid Ath-Thawil dari Anas bin Malik RA, ia berkata Ada suatu kaum datang kepadanya untuk menjenguk sakitnya, lalu Anas memanggil pembantunya, “Hai anak perempuan, bawalah kesini untuk teman-teman kita walaupun sedikit makanan, karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kemuliaan akhlaq termasuk amalan-amalan surga”. [HR. Thabrani].Selain itu, Nabi SAW juga bersabda“Tidaklah seorang muslim yang mendatangi saudaranya yaitu mengunjunginya karena Allah, kecuali ada malaikat yang menyerunya dari langit dengan mengatakan, “Sangat baik perbuatanmu dan surga yang baik untukmu. Dan jika tidak demikian, Allah berfirman di kerajaan Arsy-Nya, “Hamba-Ku berkunjung karena Aku, dan pasti Aku akan memulyakannya”. Maka Aku tidak ridla memberi balasan baginya kecuali surga”. [HR. Abu Ya’la]Sebagai Bentuk Keimanan Dan Ketakwaan Terhadap AllahKeimanan dan ketakwaan seseorang dalam memegang teguh agamanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang artinya ”Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” Muttafaqun Alaihi.Baca jugaHukum Korupsi Dalam IslamHukum Mencuri Dalam IslamTips Sehat Ala RasulullahDemikianlah beberapa keutamaan dalam memuliakan tamu menurut pandangan Islam. Smeoga artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan dan meningkatkan keimanan kita semua. Amin.
Jadidalam berkomunikasi saat berhadapan dengan tamu kita sebaiknya bisa menggunakan kata-kata yang tepat untuk bisa memberikan kesan sopan dan memberikan ra
BERTAMU sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan bersosial. Namun, ada juga yang merasa keberatan dengan kehadiran tamu. Merasa terganggu, harus mengeluarkan biaya untuk menjamu dan lain sebagainya. Padahal tamu itu membawa berbagai macam keutamaan bagi sang pemilik rumah. Islam sebagai agama yang sempurna telah memerintahkan umatnya untuk selalu memuliakan tamu. Karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Sebaliknya bagi yang tidak ramah menjamu tamu, maka tak ada kebaikan baginya. BACA JUGA Anjuran Alquran untuk Minta Izin Saat Bertamu “Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu.” HR. Ahmad. Nah, berikut beberapa keutamaan menjamu tamu yang patut kamu ketahui 1 Memuliakan tamu salah satu tanda orang beriman “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” HR. Bukhari dan Muslim. 2 Tamu menghapus dosa-dosa tuan rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tamu datang dengan membawa rezekinya dan pergi dengan menghapus dosa-dosa kalian dan Allah menghapus dari dosanya dan dosa-dosa kalian” HR. Abu Syaikh. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang, membawa rezeki untuk orang tersebut dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah swt akan mengampuni dosa penghuni rumah yang dikunjungi.” 3 Tamu menjadi pintu pembuka rezeki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tamu datang pada kalian dengan membawa rezeki.” Muslim 4 Orang yang memuliakan tamu akan berhubungan dengan Allah Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, Rosulullah saw bersabda, “Silaturahmi itu tergantung di `Arsy Singgasana Allah seraya berkata “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.” HR. Bukhari dan Muslim BACA JUGA Saudaraku, Jangan Sampai Hartamu Melalaikanmu… 5 Tamu datang membawa hal-hal baik dan pulang membawa hal-hal buruk dari dalam rumah Ketika tamu datang, mereka membawa berbagai kebaikan untuk kita, sedangkan ketika mereka pulang, mereka akan membawa dosa-dosa yang berasal dari rumah kita. Seperti yang diceritakan dalam sebuah riwayat berikut ini. Pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hiduplah sepasang suami istri yang berbeda prinsip soal menerima tamu. Suaminya merupakan orang yang merasa gembira saat rumahnya dikunjungi oleh tamu, sedangkan istrinya tidak. Sang istri akan menunjukkan sikap kurang baik jika ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Hal ini tentu menimbulkan kegusaran bagi sang suami hingga akhirnya mengadukan hal tersebut kepada Rasul. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Katakan pada istrimu agar ia memperhatikan tamu pada saat keluar rumah.” Sang istri akhirnya melakukan saran Rasulullah tersebut. Dia memerhatikan tamu yang datang membawa daging dan buah-buahan yang banyak, sedangkan pada saat keluar rumah mereka membawa pulang ular dan kalajengking yang banyak. Rasulullah bersabda, “Kedatangan tamu ke rumah mendatangkan karunia yang banyak ke dalam rumah dan pada saat mereka pergi mereka membawa keluar berbagai bencana.” Sejak menyaksikan hal itu, sang istri menjadi senang menerima tamu. [] SUMBER INSPIRADATA
\n mengucapkan kata kata yang sopan dan memuliakan tamu termasuk

Sesungguhnyaseseorang mengucapkan kata-kata yang tidak ia teliti kebenarannya, ucapannya itu menyebabkannya tergelincir di neraka lebih jauh dari pada jauhnya antara timur dan barat. [2] Dalam Sha h î h al-Bukh â ri disebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Word Definitions Text Translation Dictionary Thesaurus Sinonim Kata Tulis kata dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris Tesaurus Bahasa Indonesiasinonimlafal, sebutan, tuturan, ujaran, Visual ArtiKataExplore ucapan in > Cari berdasar huruf depan A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z Situs lain yang mungkin anda suka • Kamus Bahasa Indonesia • Rima Kata ..Obfuscated by 2011-2023. Kamus Thesaurus Bahasa Indonesia dan Inggris. Source & Disclaimer. OK. .
  • jer5zspf5s.pages.dev/161
  • jer5zspf5s.pages.dev/74
  • jer5zspf5s.pages.dev/295
  • jer5zspf5s.pages.dev/496
  • jer5zspf5s.pages.dev/464
  • jer5zspf5s.pages.dev/329
  • jer5zspf5s.pages.dev/328
  • jer5zspf5s.pages.dev/141
  • mengucapkan kata kata yang sopan dan memuliakan tamu termasuk